
Interview barista merupakan tahapan seleksi yang cukup penting. Interview bertujuan untuk memastikan lebih jauh tentang kebenaran berkas yang sudah dikumpulkan, serta membantu recruiter untuk melihat skill komunikasi dan cara berpikir seseorang.
Seorang barista membutuhkan skill komunikasi yang baik dan skill membuat kopi yang mahir. Terkadang, seseorang sibuk memikirkan apakah mereka akan diterima atau tidak, dibandingkan mematangkan diri pada dua skill ini. Padahal, jika seseorang sudah mahir pada keterampilan tersebut, maka itu akan mempermudah proses interview.
Lalu, bagaimana dengan calon barista tanpa pengalaman kerja? banyak orang berpikir, non pengalaman itu berarti kerja sambil belajar, itu adalah hal yang rumit. Recruiter pun akan berpikir kembali untuk menerima kriteria tersebut. Apalagi coffee shop sudah tersebar luas, jelas banyak recruiter mencari barista yang kompeten dan mau berkembang.
Artikel ini akan membahas tentang interview barista tanpa pengalaman. Seperti apa kompeten yang dibutuhkan oleh recruiter, apakah benar non pengalaman itu tidak bisa lolos interview? Yuk baca sampai bawah dan temukan jawabannya.
BACA JUGA: Teknik Dasar Menyajikan Kopi Espresso untuk Barista Pemula
Apakah Barista Non Pengalaman Masih Bisa Diterima?
Persaingan antar calon barista memang sulit. Apalagi, jika beberapa pendaftar adalah orang–orang berpengalaman dan kompeten. Hal itu akan memperkecil kemungkinan pemula untuk diterima. Namun, apakah itu berarti non pengalaman kehilangan peluang untuk lolos? jelas tidak.
Interview barista menjadi kesempatan yang baik untuk pemula menunjukkan diri. Di sana mereka bisa menceritakan jati diri, ketertarikan terhadap barista sebesar apa, dan sebanyak apa pengetahuan mereka tentang kopi. Momen itu sangat bagus untuk meyakinkan recruiter.
Akan tetapi, perlu diketahui bahwa sebelum sampai pada tahap interview, ada beberapa hal yang perlu pemula persiapkan, yaitu skill. Skill membuat kopi yang kreatif dan skill komunikasi yang baik. Meskipun pemula belum punya pengalaman, bukan berarti tanpa persiapan.
Apa Saja Persiapan Sebelum Interview Barista?
Ini adalah bagian terpenting, karena disinilah kamu membangun non pengalaman tetapi punya nilai. Hal ini akan memberikan pandangan positif dari recruiter, sehingga kamu bisa lolos ke tahap interview bahkan bisa keterima menjadi barista.
1. Belajar Dasar Dunia Kopi

Pengetahuan dasar untuk menjadi seorang barista itu adalah menguasai jenis-jenis minuman seperti espresso, latte, cappuccino, manual brew, serta istilah dasar lainnya yang sering digunakan di coffee shop. Kamu tidak harus expert dulu awalnya, minimal tahu basic. Cukup kamu pahami jenis dan perbedaannya.
2. Pernah Praktik Membuat Minuman

Setelah tahu jenisnya, kamu harus bisa praktiknya. Belajar otodidak juga boleh, melalui tutorial dari youtube. Kamu bisa membuat steaming susu dulu dan membuat kopi sederhana. Praktiknya memang tidak mudah, tapi harus tetap berusaha, karena recruiter lebih percaya kandidat yang sudah pernah mencoba dibanding yang benar-benar kosong.
3. Mengikuti Pelatihan atau Kelas Barista

Pernah mengikuti pelatihan atau kelas barista adalah nilai jual yang sangat penting. Karena kepercayaan barista terhadap kamu akan lebih besar. Mengikuti pelatihan barista akan sangat cocok bagi yang kesulitan belajar otodidak, apalagi memiliki keterbatasan alat.
Beberapa keuntungan jika mengikuti pelatihan adalah memiliki mentor yang membimbing, dikenalkan berbagai jenis alat pembuatan kopi, memahami workflow cafe seperti apa, melatih komunikasi, serta menambah kepercayaan diri saat interview.
4. Belajar Customer Service

Banyak pemula berpikir bahwa barista itu hanya membuat kopi, padahal pekerjaannya lebih dari itu. Customer service adalah melayani pelanggan seperti menyapa pelanggan yang datang dan melayani kebutuhannya. Hubungan antara barista dan pelanggan membutuhkan komunikasi dan attitude yang baik. Sebagai calon barista, kamu harus memahami skill ini.
BACA JUGA: Seberapa Penting Sertifikasi Barista Indonesia di Dunia Kopi
Tips Menjawab Pertanyaan Interview Barista bagi Pemula
Setelah mempersiapkan ilmu dan juga praktik yang matang, selanjutnya adalah mengetahui bagaimana cara menjawab interview bagi yang belum mempunyai pengalaman. Para kandidat bisa menggunakan pola jawaban berikut ini:
- Kondisi saat ini : Akui bahwa memang belum memiliki pengalaman
- Usaha yang sudah dilakukan: Ceritakan apa yang sudah dipelajari atau dilatih
- Komitmen ke depan: Tunjukkan bahwa kamu siap berkembang.
Bagi pemula penting mengeksplor terlebih dahulu segala hal yang berkaitan dengan dunia kopi. Sehingga, saat wawancara ceritanya lebih natural dan mendalami. Berikut contoh pertanyaan dan jawabannya, bisa praktik sendiri dulu dan kembangkan jawaban versi kamu.
1. Ceritakan Tentang Diri kamu

Banyak pelamar pemula menjawab dengan terlalu singkat atau bahkan terlalu panjang menceritakan riwayat hidupnya. Padahal, di sini kamu cukup menjelaskan empat biodata saja, yaitu nama, lulusan, usia dan domisili, sisanya kamu menjual kelebihanmu yang berkaitan dengan barista. Berikut contoh cara menjawabnya:
“Perkenalkan nama saya Fajri Hasanuddin, usia saya 24 tahun dan asal saya dari kota Surabaya. Sebelumnya saya adalah seorang guru pengganti di sekolah swasta. Meskipun belum memiliki pengalaman sebagai barista, saya tertarik dengan dunia coffee shop setelah sering berkunjung ke salah satu kedai kopi, saya melihat bagaimana pelayanan yang ramah serta kualitas produk dapat memberikan pengalaman yang baik bagi pelanggan. Ketertarikan tersebut mendorong saya untuk mempelajari dasar-dasar kopi dan mengikuti pelatihan barista. Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan kemampuan saya dan berkontribusi secara profesional di industri coffee shop.”
2. Mengapa kamu Ingin Menjadi Barista?

Pertanyaan ini berkaitan dengan alasan dan motivasi kamu menjadi barista. Di sini jawaban kamu usahakan tidak hanya membahas keuntungan pribadi seperti butuh pekerjaan, tapi tunjukkan rasa tertarik kamu pada bidang barista, dan kontribusi apa yang bisa kamu berikan nantinya. Berikut contoh jawabannya:
“Saya sudah menyukai kopi sejak lama. Saya juga sering berkunjung dari coffee shop yang satu ke yang lainnya. Ketertarikan saya menjadi barista bermula dari situ. Saya sering mengamati apa yang dilakukan barista, cara mereka melayani pelanggan, cara mereka berkomunikasi, bahkan saya pernah menemukan barista yang memiliki integritas tinggi dalam bekerja, itu adalah suatu hal yang keren menurut saya. Dari situ, saya mulai mencari tahu skill barista dan jenjang karirnya. Sehingga, saya pun tertarik untuk menjadi barista yang pastinya berintegritas seperti orang-orang hebat yang saya temui selama ini.”
3. Kamu Belum Memiliki Pengalaman, Lantas Kenapa Kami Harus Memilih Kamu?

Menghadapi pertanyaan seperti ini, biasanya pemula akan merasa takut dan bingung akan menjawab apa. Tapi, yakinlah jika kamu sudah persiapan matang, teori ada dan praktik cukup, kamu tidak usah risau untuk menjawab pertanyaan ini, cukup tenang dan berikan jawaban yang meyakinkan. Contohnya seperti ini:
“Memang saya belum memiliki pengalaman kerja sebagai barista. Namun, saya sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari dasar-dasar kopi, mengenal berbagai jenis minuman, dan mengikuti pelatihan untuk memahami pekerjaan barista. Selain itu, saya juga berlatih membuat beberapa minuman dasar agar memiliki gambaran tentang alur kerja di coffee shop. Jika diberikan kesempatan, saya siap belajar lebih banyak, menerima arahan, dan berkembang bersama tim untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan .”
4. Apa yang kamu Ketahui Tentang Dunia Barista?

Pertanyaan ini tujuannya untuk menguji pengetahuan kamu tentang barista. Jawablah sesuai pengetahuan yang sudah kamu pelajari. Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit, yang terpenting tunjukkan bahwa kamu memahami peran seorang barista dan sudah berusaha mempelajarinya.
“Setelah belajar tentang dunia coffee shop, saya memahami bahwa barista tugasnya tidak membuat kopi saja, tetapi lebih dari itu dia juga menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, menjaga kebersihan area kerja, dan bekerja sama dengan tim agar operasional coffee shop berjalan lancar.”
5. Bagaimana Cara Menghadapi Pelanggan yang Komplain?

Saat mengajukan pertanyaan ini, recruiter biasanya ingin mengetahui bagaimana cara kamu mengendalikan emosi, berkomunikasi dengan pelanggan, dan mencari solusi ketika terjadi masalah.
Sebagai pemula, kamu tidak perlu menjawab seolah-olah sudah sering menghadapi pelanggan yang komplain. Sebaliknya, tunjukkan bahwa kamu memahami pentingnya mendengarkan pelanggan dan memberikan pelayanan yang baik. Contoh jawabannya seperti ini:
“Komplain dari pelanggan memang tidak bisa dihindari dalam perkejaan apapun. Dalam kondisi seperti itu saya akan tetap tenang dan mendengarkan keluhan pelanggan terlebih dahulu untuk memahami masalah yang terjadi. Dari yang saya pelajari tentang customer service, pelanggan biasanya ingin didengarkan dan dibantu mencari solusi. Karena itu, saya akan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan saya atau meminta bantuan rekan kerja maupun supervisor jika diperlukan. Saya akan menjadikan komplain dan saran dari pelanggan sebagai pelajaran untuk proses kerja saya kedepannya.”
6. Mengapa kamu Ingin Bekerja di Coffee Shop Kami?

Sebelum menghadiri interview, beberapa hari sebelumnya luangkan waktu untuk melakukan riset terkait dengan coffee shop tempat kamu melamar kerja. Recruiter akan merasa terkesan dengan sikap ini, artinya kamu serius dan berinisiatif tinggi. Begini contoh cara menjawabnya:
“Saya sudah mencari informasi terkait dengan coffee shop ini. Saya berkunjung ke media sosial, artikel terkait, hingga rating dan ulasan para pelanggan. Saya melihat bahwa coffee shop ini memiliki suasana yang nyaman, pelayanan yang baik, dan cukup memperhatikan kualitas produk yang disajikan. Hal itu membuat saya tertarik karena sejalan dengan ketertarikan saya dalam dunia coffee shop dan pelayanan pelanggan. Selain itu, saya juga melihat tempat ini sebagai lingkungan yang baik untuk belajar dan mengembangkan kemampuan saya sebagai barista.”
Beberapa pertanyaan akan mempunyai narasi yang jawabannya akan sama saja, jadi fokus kamu menjawab sesuai dengan apa yang recruiter pertanyakan. Kuncinya adalah persiapkan apa-apa yang perlu kamu persiapkan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
BACA JUGA: 8 Tugas Barista, Tanggung Jawab serta Tantangannya
Kesalahan Pemula Saat Wawancara Barista
Banyak kandidat yang gagal ketika tahap interview. Mereka merasa wawancara itu gampang, hanya ngomong saja, tidak perlu persiapan. Sebaliknya, ada orang-orang yang persiapannya matang, namun gagal juga karena rasa gugup yang dia alami.
Oleh karena itu, kamu perlu mempelajari hal apa saja yang perlu dihindari saat interview. Ini akan membantu kamu untuk tidak salah langkah, serta lebih siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan nantinya.
1. Terlalu pasif

Sikap pasif saat wawancara adalah ketika kandidat hanya menjawab seperlunya, tidak menunjukkan antusiasme, dan tidak berusaha mengembangkan jawaban. Jika kamu memperlihatkan sikap demikian, maka recruiter akan beranggapan kamu tidak minat menjadi barista, atau kamu orang yang tidak percaya diri dan kurang inisiatif.
Padahal, bisa saja kamu sedang gugup. Latihan berbicara itu penting, misal di depan cermin, atau minta orang terdekat untuk membantu kamu latihan. Jika konsisten, maka proses wawancara akan mudah kamu hadapi.
2. Tidak Belajar Sebelum Melamar

Ketika melamar kerja, sudah pasti kamu akan melihat kualifikasi yang diperlukan. Ingat, skill komunikasi dan bisa membuat kopi itu penting, kamu perlu belajar dan praktik, jangan biarkan CV kamu kosong. Belajar dulu agar kamu lebih siap ketika wawancara, recruiter juga akan memandang kamu sebagai orang yang serius.
Dalam proses wawancara, recruiter akan mengulik betul-betul kemampuan kamu. Maka, kamu harus lebih siap, pelajari menu kopi dasar, riset coffee shop atau tempat kamu melamar. Sehingga, kamu tidak hanya berkata ‘Siap belajar’, tetapi memang sudah ada usaha nyata yang kamu lakukan yaitu belajar.
3. Tidak Memahami Tujuan Menjadi Barista

Recruiter biasanya berharap kamu akan berkontribusi bagi coffee shop yang mereka miliki. Karena itulah, mereka akan melihat sikap kamu ketika ada pertanyaan ‘Kenapa kamu ingin menjadi barista’.
Menjawab pertanyaan ini harus hati-hati, kebanyakan orang menjawab hanya menjelaskan keuntungan yang akan dia dapatkan. Misal, ingin menjadi barista untuk mendapatkan gaji, kerjanya santai, atau hanya untuk mencari pengalaman. Jawaban ini tidak salah, namun kurang tepat dalam penyampaiannya.
Menjadi barista bukan hanya untuk mencari kerja atau pendapatan, akan tetapi juga harus bermanfaat untuk orang lain yaitu pelanggan. Membuat mereka tenang dan nyaman, itu adalah tugas barista juga. Memahami hal itu akan membuatmu profesional dalam bekerja.
Interview barista itu akan terasa mudah dan ringan jika kamu mempersiapkannya dengan baik. Cara mempersiapkannya jelas dengan belajar dan praktik terus menerus. Ingatlah, barista itu tidak hanya pandai membuat kopi, tapi juga pandai menjaga kebersihan, bagus komunikasinya, serta baik attitudenya.
Tempat untuk belajar barista itu banyak sekali. Kamu bahkan bisa mempelajarinya otodidak. Akan tetapi, jika kamu ingin pendampingan mentor, relasi kelompok barista, praktik langsung dengan bimbingan ahli, maka kamu cocoknya ikut kelas atau pelatihan barista.
Dengan pelatihan barista banyak keuntungan yang akan kamu dapatkan. Selain yang sudah disebutkan tadi, mengikuti pelatihan akan meningkatkan rasa percaya dirimu. Jika kamu orangnya pengen belajar yang cepat, konsisten dan terstruktur, kamu bisa mencoba kelas pelatihan barista dari Generasi insan kreatif.
Di generasi insan kreatif kamu akan diajarkan sampai mahir. Kelasnya menyenangkan dan mentornya asik, membuat kamu bisa paham cepat. Kamu juga bisa memilih kelas privat jika ingin belajarnya lebih cepat lagi. Di sana kamu tidak hanya belajar tehnis membuat kopi, tapi juga soft skill yang paling dibutuhkan.
